Sir Edmund Hillary, Penakhluk 10 Atap Bumi
Dalam sejarah dunia pendakian nama Sir Edmund Hillary ibarat sebuah legenda yang tak pernah mati. Dia lah salah seorang manusia pertama yang menumbuhkan keniscayaan orang untuk mencapai atap dunia di Himalaya. Lahir pada tahun 1919 di Auckland Selandia Baru dan tumbuh dewasa juga di daerah tersebut, sejak muda Emund Hillary telah memilki ketertarikannya terhadap dunia pendakian gunung. Meskipun di negaranya ia bekerja tak lebih hanya sebagai tukang penjaga lebah madu namun cerita hidupnya kemudian membuktikan bahwa Edmund Hillary telah sukses dengan berbagai pendakian di Selandia Baru, pegunungan Alpen sampai akhirnya ia sampai juga di puncak Himalaya. Dan suatu hal yang sangat fantastis, di Himalaya, ia berhasil bertengger di 11 puncaknya yang berbeda dengan ketinggian rata-rata diatas 20 Ribu kaki!
Dengan prestasi tersebut adalah suatu kewajaran jika dihari kemudian Hillary dijuluki orang sebagai Bapak Pendaki Gunung karena keberhasilannya mencapai beberapa puncak gunung tertinggi di dunia.
Antara tahun 1920-1952 usaha yang dilakukan oleh beberapa tim ekspedisi ternama tercatat gagal mencapai puncak gunung Everest yang terletak antara Tibet dan Nepal. Kegagalan pertama pada tahgun 1924 dialami oleh pendaki kawakan George Leigh-Mallory dimana ia mengalami kecelakaan dalam pendakian tersebut. Tahun 1952 tim pendakian Swis juga terpaksa harus turun kembali setelah hanya mencapai puncak punggungan selatan, 1000 kaki dibawah puncak utama.
Karena keberaniannya dalam tim ekspedisi pendakian Everest ditahun 1951 dan 1952 Edmund ditarik untuk bergabung kembali dengan tim ekspedisi Himalaya yang disponsori The Joint Himalayan Committee of The Alpine Club of Great Britain dan The Royal Geographic Society . Tahun 1953 ia memulai pendakian tersebut bersama para pendaki tangguh dunia lainnya.
Seluruh anggota tim ekspedisi ini tercatat hanya mencapai puncak selatan. Dua pendaki lainnya memutuskan untuk turun kembali setelah sampai di puncak punggungan selatan. Akhirnya pendaki yang tersisa dan paling siap melanjutkan perjalanan hanyalah Hillary dan seorang sherpa , Tenzing Norgay. Tepat pukul 11:30 pagi tanggal 29 May 1953 dua pendaki ini berhasil mencapai puncak Everest dengan ketinggian 29.028 kaki diatas permukaan laut, puncak tertinggi di bumi ini. Keberhasilannya ini membuatnya menerima penghargaan dari ratu Elizabeth II. Edmund berhak atas gelar Sir, gelar yang hanya disandang oleh para pemberani yang berhasil menyumbangkan sesuatu untuk kejayaan kerajaan Inggris.
Setelah sukses mencapai puncak Everest, antara tahun 1955-1958 Sir Edmund Hillary bergabung dengan tim Ekspedisi Trans-Antarctic untuk pendakian didaerah selatan Polandia. Tahun-tahun berikutnya ia bergabung dengan beberapa tim ekspedisi, sampai akhirnya ia mengkonsentrasikan dirinya pada usaha-usaha mensejahterakan masyarakat Nepal. Di negara itu ia membantu program pengembangan sosial masyarakat Nepal, diantaranya membangun klinik pengobatan, rumah sakit, dan 17 sekolah.
Untuk memfasilitasi proyek ini dibangunlah 2 lapangan udara. Keberadaan lapangan udara secara langsung berpengaruh juga terhadap perkembangan sektor pariwisata. Saat itu Nepal mulai banyak dikunjungi turis dan para pendaki. Penduduk Nepal yang melihat peluang bisnis mulai membuka hutan dan mendirikan berbagai rumah singgahan untuk turis dan pendaki dilahan bekas hutan tersebut.
“Ketika dibiarkan hal tersebut jelas bisa menimbulkan kerusakan dan keseimbangan lingkungan” kata Edmund dengan sedikit cemas.
Oleh karena itu Sir Edmund Hillary segera mengambil insiatif menyarakankan agar pemerintah Nepal membuat undang-undang perlindungan hutan dan segera mengumumkan bahwa wilayah sekitar Himalaya adalah termasuk kawasan taman nasional yang harus dijaga kelestariannya. Namun karena faktor kurang pengalaman dibidang tersebut, pemerintah Nepal menolak usulannya. Namun Hillari tidak putus asa dengan menggunakan pengaruhnya di Selandia Baru, dia berhasil menekan pemerintah Selandia Baru untuk mengucurkan bantuan manajerial skill dan dana guna program kelestarian lingkungan hidup tersebut.
Setelah sukses dengan pendakian dan program sosial hijaunya di Nepal, memasuki masa tuanya Hillary mulai menerbitkan buku-buku catatan pendakian dan perjalanannya. Salah satunya adalah The Ascent of Everest , buku catatan pendakiannya yang di Amerika lebih ngetop dengan The Conguest of Everest . Kemudian pada tahun 1975 bibliografinya yang berjudul Nothing Venture, Nothing Win diterbitkan. Tahun 1979 ia kembali menerbitkan buku From The Ocean to The Sky, sebuah catatan perjalanannya menyusuri sungai Gangga di tahun 1977.
Sayang, keakrabannya terhadap alam ternyata tidak berimbas kepada keharmonisan di dalam keluarganya. Kehidupan keluarga Hillary yang suram akhirnya membuahkan sebuah keputusan menyedihkan; Tahun 1975 perceraian menderanya dan dia terpaksa harus kehilangan anak-istrinya Meskipun ia menikah kembali dan segera memutuskan untuk melanjutkan kembali kehidupannya mengurusi masalah-masalah lingkungan hidup namun tak urung kejadian tersebut membuat dia sempat terluka. Yaa memang terkadang salah satu hasil perjuangan adalah pengorbanan
Disadur Seluruhnya dari http://catros.wordpress.com
Pendaki Everest, di Antara Sherpa dan Tabung Oksigen
EDMUND Hillary tak akan sampai ke puncak tanpa didampingi Tenzing Norgay. Hillary boleh saja dipuja-puji sebagai manusia paling tangguh yang berhasil menaklukkan ganasnya alam Puncak Everest, namun ia sebenarnya masih tidak ada apa-apanya dibanding Norgay sang sherpa. Ini adalah sebutan untuk kuli pengangkut barang yang menjadi faktor penting dalam pendakian.
Tanpa sherpa, hanya sedikit pendaki yang bisa mencapai puncak. Soalnya, sherpa-lah yang membawa barang berat dan besar, dari makanan, tabung oksigen, sampai peralatan mendaki dan tenda.
“Para sherpa itu sungguh luar biasa. Mereka lahir di gunung, sehingga mereka tidak bermasalah dengan kadar oksigen yang kurang,”papar Sean O’Byrne, Direktur Komunikasi dan Pengembangan Distrik di Kansas City, yang pernah mendaki Gunung Everest karena memenangkan kontes tahun 1997, seperti dikutip The Kansas City Star.
Merekalah yang telah berulang kali naik turun gunung dengan beban sedikitnya 45 kg di punggung, tanpa kelihatan lelah. Sementara para pendaki yang hanya membawa beban kurang dari setengahnya, berjalan seperti merayap dan setengah mati menghirup oksigen di udara.
Tidak heran bila para sherpa inilah yang diam-diam suka dinobatkan sebagai penakluk gunung yang sebenarnya. Appa Sherpa misalnya, memegang rekor 12 kali ke puncak, sedang dua sherpa lainnya mencapai puncak 10 kali.
DI gunung yang tinggi-di atas 7.600 meter-tidak hanya angin dan udara dingin yang menghadang. Kekurangan oksigen sungguh amat terasa. Pada ketinggian itu, tekanan udara hanya 30 persen dari tekanan di atas permukaan laut.
Bila ada pendaki yang tidak menjalani aklimatisasi nekat mendaki puncak vertikal setinggi 8,8 km di Everest, maka ia akan mendapat suplai oksigen hanya sepertiga dari yang biasa dihirupnya. Dalam tiga menit ia bisa pingsan dan 10 menit kemudian meninggal.
Karena itu, Hillary dan Norgay juga amat tergantung pada tabung oksigen di ketinggian tersebut. Peralatan bantu pernapasan yang membuat mereka mencapai puncak Everest dibuat oleh insinyur pesawat Inggris yang hobi mendaki gunung, Peter Lloyd. Tabung oksigen itulah yang menyuplai 400 liter oksigen ekstra ketika mencapai Death Zone.
Lloyd yang pernah bekerja sama dengan Frank Whittle untuk membuat mesin jet, menggunakan teknologi yang dikembangkan dalam Perang Dunia II. Seperti diketahui, para awak pesawat tempur juga membutuhkan tambahan oksigen di ketinggian tertentu. Masker oksigen buatan Lloyd misalnya, jelas-jelas diadaptasi dari pilot Royal Air Force.
PENDAKI Amerika Serikat, Eric Simonson menekankan pentingnya suplai oksigen, terutama saat tidur. “Saat tidur di malam hari laju pernapasan akan menurun. Kami para pendaki biasanya memerlukan oksigen satu liter per menit di malam hari,” paparnya.
Menurut Graphic News, ini yang sering membuat pendaki mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen. Sedang di siang hari kebutuhan oksigen 2-3 liter per menit, tergantung aktivitasnya.
Tabung oksigen terus dikembangkan, sehingga para pendaki bisa memanfaatkannya secara optimal. Bahkan, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tabung oksigen yang dulu berat dan besar-terbuat dari baja tebal-kini jauh lebih ringan berkat serat karbon-aluminium. Sistem penyaluran oksigen yang makin efisien, membuat keperluan oksigen makin rendah sehingga meringankan.
Sistem terbaru yang diciptakan oleh Luxfer Medical itu merupakan tabung oksigen teringan, terkecil, dan terefisien dalam menyalurkan oksigen. Ini berkat adanya sistem penyaluran elektronik seukuran kotak rokok-disebut EDS- yang menempel pada selang tabung.
Kalau dulu pendaki harus menggunakan masker, kini oksigen cukup disalurkan lewat plastik kecil yang pas dengan ukuran lubang hidung.
Perkembangan tabung oksigen, ditambah juga makin canggihnya peralatan untuk bertahan hidup, navigasi, dan alat bantu mendaki gunung lainnya, membuat sepanjang 50 tahun ini-sejak Edmund Hillary dan Tenzing Norgay berhasil mencapai puncak Everest-sudah 1.200 laki-laki dan perempuan melakukan hal yang sama. Bukan tidak mungkin, suatu saat nanti mendaki Everest tidak lagi menjadi tantangan bagi para pendaki gunung yang perkasa ini. (nes)
DI KUTIP DARI, KOMPAS 27 MEI 2003
BIOMOLECULAR
CODE BUKU ——-JUDUL BUKU
MED.BIO.MOL.1 ABC of Clinical Genetics
MED.BIO.MOL.2 Clinical Applications of Artificial Neural Networks
MED.BIO.MOL.3 Concise Dictionary of Biomedicine and Molecular Biology
MED.BIO.MOL.4 Dictionary of Biochemistry and Molecular Biology
MED.BIO.MOL.5 Encyclopedic Reference of Genomics and Proteomics in Mo
MED.BIO.MOL.6 Molecular Biology of Cancer
MED.BIO.MOL.7 Molecular Epidemiology of Chronic Diseases (Wiley, 2008)
-
Archives
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS


